Berita
investigasi adalah bentuk jurnalisme saat seorang wartawan mendalami sebuah
penyelidikan suatu topic yang menarik. Seorang jurnalis investigasi biasa
menghabiskan waktu bulanan bahkan sampai tahunan untuk melakukan penelitan dan
menyiapkan laporannya.
Contoh
Berita Investigasi :
Reportase
Investigasi Kerupuk Berbahaya
Kerupuk
merupakan makanan yang disukai banyak orang. Rasanya yang gurih dan kriuk saat
dimakan. Dari berbagai macam jenis kerupuk, yang paling sering dijumpai yaitu
kerupuk kaleng/aci/tapioka seperti gambar di bawah ini.
![]() |
|
|
Tahukah
bahwa ada zat-zat berbahaya yang terkandung didalamnya??
Sejatinya
kerupuk itu miskin gizi. Kerupuk hanya sekedar untuk selingan. Meski demikian
banyak orang Indonesia yang menggemarinya.
Namun,
kegemaran juga harus dibarengi dengan kehati-hatian.
Fakta
dari hasil penelusuran Tim Investigasi Trans menemukan bahwa ada oknum pembuat
kerupuk aci dan kerupuk lipat yang mengandung boraks, bleng dan tawas.
Bocil,
salah satu oknum pembuat kerupuk tersebut mengatakan bahwa kerupuknya akan
kurang laku karena tampilanya akan menarik dan tahan lama. Ironis memang.
Dirinya
juga mengungkapkan bahwa bleng mudah didapat dipasar-pasar. Bleng merupakan
boraks yang ditambah garam.
Boraks,
zat yang biasanya digunakan untuk membasmi kecoa dan Tawas, yang mengandung
alumunium sulfat, biasa digunakan sebagai penjernih air. Perlu diketahui bahwa
yang paling berbahaya dalam tawas yaitu kandungan alumuniumnya karena bila
terlalu sering dikonsumsi maka akan semakin mengendap didalam tubuh dan dapat
menyebabkan gangguan syaraf seperti hingga alzeimer dalam jangka panjangnya.
Perlu
diingat bahwa
BORAKS
tidak boleh ditambahkan ke dalam makanan dalam jumlah berapapun karena
merupakan zat yang berbahaya.
Namun,
hal tersebut tidak pernah dipikirkan oknum pembuat kerupuk seperti bocil,
mereka hanya memikirkan untung. Hal itu bahkan dipelajari dari pabrik pembuat
kerupuk tempat dia bekerja dulu.
Dalam
prosesnya dirinya memakai tepung tapioka+terigu dan tak lupa menambahkan tawas
dan bleng. Itu agar kerupuk dalam 2-3 hari tidak tengik dan pada kerupuk lipat
bias bagus warnanya. Dalam sehari dirinya membuat hingga 50 kg tepung yang
disebar ke warung-warung hingga ke luar kota. Dalam satu toples besar berisi
40-50 kerupuk yang dijual Rp 400,- per buah. Bahkan di pabrik besar tempatnya
bekerja dulu hingga memproduksi 1-2 kwintal bahan kerupuk tiap hari. Bahkan
pemasarannya semakin luas dari mulai armada sepeda, motor, gerobak ke segala
penjuru hingga ke perumahan dan restoran.
Hasil
penelusuran lainnya yaitu dari 10 sampel kerupuk aci yang dimabil di tempat
berbeda, dari warung hingga supermarket ditemukan bahwa dari 10 sampel kerupuk
5 diantaranya terdeteksi mengandung bahan berbahaya termasuk kerupuk buatan
bocil dan pabrik tempat dia bekerja dulu. Serta dari uji bulu domba terdeteksi
adanya zat pewarna makanan tekstil.
Adapun
tips cara menikmati kerupuk yaitu :
Hindari
makan kerupuk hanya sebgai snack, jadi sebagi pendamping dengan yang lain
Namun,
tetap ada produsen kerupuk yang jujur,
Dalam
wawancaranya dengan tim trans investigasi, dirinya mengatakan bahwa sebenarnya
tanpa menggunakan zat-zat itu, maka kerupuk dapat maksimal hasilnya apabila pas
dalam mangaduk adonannya, sampai matang, mengukus juga sampai matang, seperti
soda kue. Dengan cara itu maka 02 akan terikat dengan tepung. Untuk penyedap
rasanya bisa ditambah daun bawang.
Biar
bagaimanapun cara yang paling aman adalah membuat kerupuk sendiri dengan
kreasi masing-masing. Untuk saya sendiri entah kenapa memang tidak
terlalu gemar dengan kerupuk :). Tapi perlu diperhatikan pula bagi yang gemar
dengan makanan yang satu ini untuk mencari kerupuk yang sehat.
Sumber
: Reportase Investigasi, TRANS TV,
26
Mei 2012
