Dari
segi bentuknya, soft news masih bisa kita perinci lagi menjadi dua:
news feature dan feature. Feature adalah sejenis tulisan khas yang
berbentuk luwes, tahan waktu, menarik, strukturnya tidak kaku, dan
biasanya mengangkat aspek kemanusiaan. Panjang tulisan feature
bervariasi dan boleh ditulis seberapa panjang pun, sejauh masih menarik.
Misalnya, feature tentang kehidupan sehari-hari nelayan di Marunda. Sedangkan
news feature adalah feature yang mengandung unsur berita. Misalnya,
tulisan yang menggambarkan peristiwa penangkapan seorang pencuri oleh
polisi, yang diawali dengan kejar-kejaran, tertangkap, lepas lagi, dan
semua liku-liku proses penangkapan itu disajikan secara seru, menarik,
dan dramatis, seperti kita menonton film saja.
Contoh Soft News :
Riau Lumpuh Karena Asap, Warga Minta Jokowi Mundur
Ratusan orang berunjuk rasa di
Pekanbaru, Riau, pada Jumat pagi, 23 Oktober 2015. Mereka berdemonstrasi
di Jalan Sudirman, tepatnya di samping kantor Gubernur Riau.
Para demonstran terdiri dari dua kelompok massa, yakni Forum Dosen
Muda dan Mahasiswa Universitas Riau serta Forum Guru Melawan Asap.
Mereka menilai Presiden Joko Widodo tak sanggup menanggulangi bencana
kabut asap akibat kebakaran hutan, terutama di Riau. Soalnya bencana
sudah lebih empat bulan. Beberapa upaya dilakukan untuk memadamkan
kebakaran tapi kabut asap kian parah.
"Kami mendesak pemerintahan Jokowi-JK, jika tidak mampu mengatasi
bencana asap di Sumatera dan Kalimantan, sebaiknya segera mundur dari
pemerintahan. Negara ini bukan untuk main-main. Banyak yang
dipertaruhkan. Kalau tidak mampu, jangan ngotot bertahan. Mundur saja,"
kata Hendri Marhadi, pemimpin unjuk rasa itu dalam orasinya.
Massa juga mendesak Gubernur Riau dan bupati di provinsi itu untuk
segera mencabut izin perusahaan HTI (hutan tanaman industri) dan HGU
(hak guna usaha) yang terbukti dibakar maupun terbakar di Riau. Menurut
Hendri, jika perusahaan tidak membakar, kabut asap tidak akan separah
sekarang.
"Tidak saja izin yang dicabut, pemilik perusahaan juga harus ditangkap," ujarnya.
Dia juga mendesak Gubernur Riau dan para bupati tidak membiarkan
masyarakat terdampak bencana asap yang membahayakan nyawa mereka. Segera
sediakan tempat-tempat steril, seperti hotel-hotel, sebagai tempat
evakuasi balita dan anak-anak. "Segera sediakan satu tabung oksigen
untuk satu rumah," katanya.
Forum Guru Melawan Asap menuntut hal serupa. Mereka meminta
Presiden tidak main-main menangani kebakaran hutan dan lahan, idak hanya
di Riau, tapi di seluruh Indonesia.
"Kami meminta Kapolri, Jaksa Agung, agar menghukum seberat-beratnya
perusahaan dan perorangan yang membakar hutan dan lahan. Kita juga
minta Presiden dan para wakil rakyat di Senayan agar segera menetapkan
kebakaran hutan dan lahan di Sumatera dan Kalimantan sebagai bencana
nasional," kata Sahran Ritonga, koordinator Forum Guru Melawan Asap Kota
Pekanbaru.
Referensi :
http://jurnal-imkom.blogspot.co.id/2011/02/perbedaan-hard-news-dan-soft-news.html
http://search.viva.co.id/search?q=asap+riau
makasih kak ;)
BalasHapus